Nampaknya hampir tak ada kesempatan bagi golongan menengah ke bawah untuk agak bersenang sedikit.Jika benar Premium akan di hapuskan untuk mobil pribadi, maka hanya golongan ataslah yang akan di akui dan bisa merasa sebagai rakyat negeri ini.Betapa tidak, karena golongan menengah kebawah akan terseok-seok untuk bisa mengoperasikan mobilnya, karena tidak mampu beli Pertamax, atau boleh jadi akan di kandangkan bahkan di kilokan.Tidak habis pikir rasanya, betapa subsidi di kurangani terus menerus, poya-poya membangun gedung “yang mulia”, namun hasil yang nampak untuk rakyat tidak seberapa.
Kini Premium mulai di bahas, santer berita bahwa akan ada konversi Premium ke Gas.Maka mobil pribadi (menurut berita itu) harus menggunakan Pertamax, atau ganti ke Gas, dgn harus membeli konverter untuk mobil agar bisa menggunakan Gas, sehaga Rp.10 jt – Rp.15.jt.
Tak habis pikir juga rasanya, bagaimana kalau “yang mulia” sampai menyetujui usul ini, ya mungkin karena mereka begitu banyak mengenyam fasilitas, hingga mereka tak merasakan penderitaan rakyat.Apalagi biasanya masalah Premium selalu saja berkaitan langsung dengan naiknya harga-harga.Rakyat seperti saya ini kok sepertinya merasa, pemerintah hampir tak perduli.Tak adakah jalan lain untuk solusi masalah ini.
Kalau pemecahan masalah selalu saja di selesaikan dengan tarik subsidi, lalu fungsi pemerintah apa?Sementara konon 70% APBN bersumber dari pajak.Masakan untuk yang 30% lagi harus tarik subsidi.
Premium, oh Premium, jangan pergi, jangan tinggalkan kami.
Ungkapan hati yang galau, ………….
